Malam ini aku tidak keluar malam, karena itu larangan yg harus tidak di laksanakan di keluarga kecilku.
Bukan hanya malam ini sebenarnya, melainkan stiap malam.
Sampai sudah terbiasa tak pernah merasakan angin malam seperti anak muda sekarang.
Namun aku tak pernah merasa kesepian, sebab melihat senyum mereka saja aku udah merasa senang.
Malam yg sangat dingin ini kita berkumpul di ruang tengah, di depan sebuah TV duduk diam dan dua cangkir kopi yg menatap riang.
Pandangan ku hanya ke TV yg melihat tajam heran kepada kita yg dari tadi tidak mengeluarkan sepatah kata. Diam dan diam, smakin hening menggigilkan badan ku yg mungil.
Keluarga yang jarang tertawa setiap tidak ada tangisan balita, batinku.
Ku seruput secangkir kopi putih, lalu aku beranikan bertanya kpda Ayahku, berharap tidak ada kebisuan. Telingaku tak melewatkan satu kata jawaban Ayah ku.
Jawaban Ayah buatku senang, ia mengijinkanku masuk ke sekolah pilihanku. Senengnya tidak dijawab kebisuan, dan di izinkan masuk ke sekolah impian. Dua prmohonanku malam ini di kabulkan Tuhan.
Namun kebahagiaan ku itu tak berlarut panjang, hanya hitungan menit hilang setelah Bunda ku tak mengizinkan ku malah menyuruh ku masuk ke sekolah kejuruan yg sangat aku hindari.
Sekolah yang tidak menuntut melanjutkan ke universitas tapi menjajikan sebuah pekerjaan.
Lalu buat apa semua rencana mereka yg dulu pernah di katakan, yg telah buat ku semangat belajar sampai sekarang.
Ternyata perdebatan kelit yg menjawab satu kalimat pertanyaan. Semua impian ku tergoncang.
Harapan ku itu musnah, semangat ku seketika hilang, semakin bimbang, menurut atau menentang. Mungkin ini tidak pernah terfikirkan oleh anak muda sekarang yg otak nya di penuhi kebahagiaan malam. Berbeda dengan aku yg malah melupakan angin malam tpi mencari bintang malam.
Bukan hanya malam ini sebenarnya, melainkan stiap malam.
Sampai sudah terbiasa tak pernah merasakan angin malam seperti anak muda sekarang.
Namun aku tak pernah merasa kesepian, sebab melihat senyum mereka saja aku udah merasa senang.
Malam yg sangat dingin ini kita berkumpul di ruang tengah, di depan sebuah TV duduk diam dan dua cangkir kopi yg menatap riang.
Pandangan ku hanya ke TV yg melihat tajam heran kepada kita yg dari tadi tidak mengeluarkan sepatah kata. Diam dan diam, smakin hening menggigilkan badan ku yg mungil.
Keluarga yang jarang tertawa setiap tidak ada tangisan balita, batinku.
Ku seruput secangkir kopi putih, lalu aku beranikan bertanya kpda Ayahku, berharap tidak ada kebisuan. Telingaku tak melewatkan satu kata jawaban Ayah ku.
Jawaban Ayah buatku senang, ia mengijinkanku masuk ke sekolah pilihanku. Senengnya tidak dijawab kebisuan, dan di izinkan masuk ke sekolah impian. Dua prmohonanku malam ini di kabulkan Tuhan.
Namun kebahagiaan ku itu tak berlarut panjang, hanya hitungan menit hilang setelah Bunda ku tak mengizinkan ku malah menyuruh ku masuk ke sekolah kejuruan yg sangat aku hindari.
Sekolah yang tidak menuntut melanjutkan ke universitas tapi menjajikan sebuah pekerjaan.
Lalu buat apa semua rencana mereka yg dulu pernah di katakan, yg telah buat ku semangat belajar sampai sekarang.
Ternyata perdebatan kelit yg menjawab satu kalimat pertanyaan. Semua impian ku tergoncang.
Harapan ku itu musnah, semangat ku seketika hilang, semakin bimbang, menurut atau menentang. Mungkin ini tidak pernah terfikirkan oleh anak muda sekarang yg otak nya di penuhi kebahagiaan malam. Berbeda dengan aku yg malah melupakan angin malam tpi mencari bintang malam.
Inginku teriak kencang
biarkan bintang heran n bermunculan
temani aku menentukan pilihan
agar aku tidak tersesat menempuh jalan
yg kelak menentukan kesuksesan atau pengangguran
sayag tak ada bintang yg kasihan
melihat jiwa yg kegelisahan
hanya angin yg berhembus kencang
membuyarkan serpihan-serpihan impian..
Tuhan aku hanya mampu bersabar menanti jawaban DariMu, tak dapat ku tentang keinginan Bunda ku tersayang. Semua telah Kau rencanakan yang terbaik untukku.
akan ku mulai prjalanan ini
walau tak pasti dimana perahu berhenti
berbekal tujuan dan harapan
namun bukan hanya ambisi
jika takdir tak searah dengan jalan mu
ma'af kan aku..
pasti satu tujuan denganmu
dengan arah jalan ku
akan berhenti di takdirku
yg telah di tentukan Tuhanku.
Coretan 13112014