Kamis, 23 Oktober 2014

Iri Kecurangan

Mendadak jadi hitam. Semua yang ku lihat hanya tembok berwarna hitam. Tempat ini berputar-putar, aduh membuat aku kliengan. Kenapa tidak ada orang disini? Kemana kalian?. Aku berteriak tapi kenapa tidak ada yang mendengar.
Sepertinya aku tertidur sebelum di dongengkan.
Aku ingin bangun dari tidur ini, tapi susah aku lakukan. Kucoba membuka mata ini perlahan-lahan, putih gelap remang-remang, hanya dapat di tangkap oleh mata tanpa mampu di terjemahkan
Bangun vilda bangunn, kenapa kamu ini?? Sepertinya aku mendengar suara yang memanggilku, siapa dia? Siapa orang yang menemaniku disini? Byarr.. seperti kilatan cahaya yang menyambar, ohh ternyata aku sudah sadar. Sepertinya ini UKS, benar! Kenapa aku ada disini, tanyaku dalam hati.
“syukur, kamu sadar Vill. Kamu tadi kenapa?” tanya Sari sahabat karibku.
“memang aku kenapa? Kok tiba-tiba aku di ruang ini sarr?” semakin aku bingung, ternyata temanku tidak mengetahui sebab aku pingsan. Kukira aku di lempar bola basket sekolahan, jika benar pasti temanku mengetahui itu. Tapi bukan, lalu apa dong yang membuat aku tiba-tiba tidak sadar.
“Loe tadi lari ke kelas gue, belum sempet cerita loe udeh nangis duluan, yaudah gue biarin elu nangis di pundak gue dulu ehh malah elo tiba-tiba jatuh ke belakang. Cerita dong! Kenapa sih loe?” Sari semakin penasaran. Jelas aku jawab dengan kebingungan, aku aja semakin pusing tambah pusing mencari alasan yang benar.
“Eng.. eng enggak papa kog sar, gue tadi cuma kurang sehat aja, thanks ya udah perhatian sm gue” jawabku terbata-bata namun tanpa timbul kecurigaan.
          
             Absen 28 hasil sembilan puluh, 29 hasil tujuh puluh delapan. Absen 29 itu absenku sedangkan 28 absen temanku yang cerdik menipu pengawas ruangan. Suara lantang guru mapel bahasa indonesia.
Duuarrrr !! seperti abis di bom atom, hancur berantakan, berkeping-keping, bahkan hanya menyisakan debu doang. Tanpa pasang kuping lagi, aku langsung pamit keluar.
Mamah papah maaf aku mengecawakan kalian, hikss hikss.. maaf aku tidak bisa maksimal, nilai-nilai ku tidak seperti yang kalian inginkan hikhikhikkk.
Mahh pahh aku iri dengan mereka, mereka mendapat nilai memuaskan tanpa memanfaatkan otak nya, sedangkan aku bersusah payah mengingat hasil belajarku, siang, malam, fajar malah tidak dapat nilai yang memuaskan. 

             Aku lari dengan tangisan mencari pundak untuk ku berbagi beban, dan sahabat karibku Sari yang rela meminjamkan pundaknya untukku bebani. Tapi aku balas dengan kedustaan, maaf kawan itu sebenarnya yang membuatku tak sadar, aku tak mampu ungkapkan itu hanya memalukan ku. Mungkin kapan-kapan aku akan jujur tentang keberhasilan mereka kawan.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar